Tampilkan postingan dengan label apple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apple. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

data yang tersimpan di SIRI sampai 2 tahun saja

Apple Simpan Data Siri Selama 2 Tahun


Jakarta - Sejak perilisan Siri di piranti iOS, Apple tidak mengatakan berapa lama pihaknya menyimpan pertanyaan yang masuk ke fiturnya itu.

Namun kini, Apple telah mengkonfirmasi bahwa mereka menyimpan pertanyaan dari pengguna selama 2 tahun. Informasi ini dikeluarkan setelah situs Wired mempertanyakan privasi terkait asisten suara tersebut.

Secara teknis, Apple akan menyimpan pertanyaan yang masuk, termasuk data pengguna Siri selama 6 bulan, namun setelah itu, Apple akan membuatnya anonim dan menyimpannya selama 18 bulan berikutnya.

Dikutip dari LATimes, Sabtu (20/4/2013), alasan Apple melakukan penyimpanan itu adalah untuk kepentingan uji coba pengembangan produk.

Lebih lanjut perusahaan yang berbasis di Cupertino itu mengatakan bahwa jika user menonaktifkan Siri, maka pertanyaan yang disimpan selama 6 bulan terakhir akan dihapus.

Selasa, 16 April 2013

Produksi iPhone Terbaru, Foxconn Kerahkan 'Pasukan'


Beijing - Foxconn Technology Group, pabrik perakitan gadget terbesar di dunia, mengerahkan 'pasukan' yang dimilikinya untuk memproduksi iPhone terbaru. 

Tambahan pekerja ini direkrut dari pabrik Foxconn di Zhengzhou, China Timur. Mengutip sumber yang menolak disebutkan namanya, penambahan para pekerja yang akan merakit iPhone baru tersebut merupakan permintaan Apple untuk menggenjot kapasitas. 

Dilansir Bloomberg, Selasa (16/4/2013), iPhone terbaru diperkirakan akan membantu meningkatkan harga saham Apple. Penjualan perusahaan yang dipimpin Tim Cook ini tercatat berada di titik paling lambatnya sejak 2009 untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret. 

Liu Kun, juru bicara Foxconn di Taipei menyebutkan, pabrik Foxconn di Zhengzhou saat ini mempekerjakan sekitar 250 -300 ribu karyawan. Namun dia tidak menyebutkan berapa banyak karyawan yang direkrut khusus untuk merakit iPhone. Dia juga menolak untuk berkomentar lebih jauh mengenai produk dan clientmereka.

Senin, 01 April 2013

Apple Berencana Luncurkan iRadio?

Headline

newsonline, California - Menurut pemberitaan TheVerge, Apple akan meluncurkan layanan iRadio pada pertengahan tahun ini. Benarkah? 

Seperti dikutip dari Pocket-lint,proyek iRadio sebelumnya dikabarkan akan rilis awal 2013, ungkap pemberitaan sejumlah media pada akhir 2012 lalu. Namun penundaan ini karena proses negosiasi bisnis Apple dengan pihak label rekaman yang terlibat.
"Layanan iRadio akan segera hadir. Tidak ada ragu lagi," ungkap sumber dariTheVerge, seraya menambahkan bahwa Apple bekerja keras meluncurkannya pada musim panas tahun ini.
Melalui layanan iRadio ini, Apple dikabarkan akan turut bersaing dengan Pandora, Spotify, RDIO, Las.fm dan layanan-layanan serupa.
Laporan awal menyebutkan bahwa iRadio akan ditawarkan secara gratis, namun dikabarkan pula bahwa Apple berencana menggunakan platform periklanan iAdsuntuk mendapatkanrevenue dari iRadio. 

Minggu, 31 Maret 2013

Seperti Apa Fungsi Jam Tangan Pintar Apple iWatch?

Jakarta - Bukan yang pertama, tapi Apple mampu mencuri perhatian media saat dikabarkan akan membuat smartwatch. Bahkan, Samsung dan Google langsung gerak cepat mengumumkan rencananya menciptakan jam tangan pintar serupa.

Perusahaan yang bermarkas di Infinite Loop 1, Cupertino, Amerika Serikat, ini memang belum secara resmi mengumumkan kehadiran iWatch, julukan smartwatch Apple yang digadang-gadang. Akan tetapi sebuah paten yang mirip dengan jam tangan ini telah didaftarkan.

Bila sebelumnya pernah mengupas mengenai konsep-konsep dari iWatch ini, maka sekarang kira kira apa saja fungsi dan spesifikasi yang bakal dibenamkan di jam tangan pintar ini?

Simak hasil beritanya yang dilansir dari Bussines Insider, Selasa (26/3/2013).

1. Layar besar dan Retina Display

 

Namanya juga smartwatch, maka tentu saja iWatch ala Apple ini bakal berbentuk seperti jam tangan pada umumnya yang melingkar di pergelangan tangan.
Namun, banyak pengamat mengharapkan layar di iWatch agak lebih besar daripada jam pada umumnya. Tentu saja dengan tingkat ketajaman yang dilapisi dengan teknologi Retina Display.
Keinginan ini wajar, mengingat konsep iWatch akan menjadi lebih asyik bila menggunakan layar sentuh atau touch screen. Karena layar terlalu kecil, agak menyulitkan.

2. Fungsi Proyektor

iWatch tampaknya memang ditujukan untuk pebisnis dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Tentu saja, fitur di jam tangan pintar ini harus disesuaikan dengan kebutuhannya.
Sangat menarik bila iWatch ini dibenamkan dengan fungsi proyektor agar pengguna bisa langsung melakukan presentasi yang sifatnya mendadak. Agar beda, juga memikat kalau proyektor yang ditembakkan adalah hologram.
Gosip fitur proyektor ini sejatinya sudah sering wara-wiri sebelum iPhone baru muncul. Tapi hingga pengumuman iPhone 5, Apple belum pernah sama sekali membenamkannya.

3. Dari iOS Hingga Kamera

Desain iWatch agaknya mutlak harus elegan agar berbeda dengan produk sejenis. Salah satu usulannya adalah berbentuk oval agar bisa dipasangkan dengan ragam fitur.
Fitur yang layak dipasangkan misalnya, layar sentuh, kamera, dan juga speaker untuk mengontrol asisten digital Siri.
Sedangkan sistem operasinya adalah iOS. Jadi mereka yang biasa menyelesaikan pekerjaan dengan iPhone dan iPad bisa selalu terhubung dengan iWatch.


4. Mampu menggantikan smartphone

Diharapkan pula, fitur-fitur yang terdapat di iWatch ini mirip-mirip dengan smartphone. Bahkan punya konektivitas selular 4G LTE (Long Term Evolution).
Menarik pulajika disediakan fitur Face Time untuk melakukan panggilan video melalui kamera depannya. Juga ada fitur perintah suara Siri seperti yang terdapat di iPhone.
Untuk navigasi, disediakan peta Apple Maps. Pendek kata, iWatch sudah mampu untuk menggantikan iPhone meski fungsi dan ukurannya lebih terbatas.

Sabtu, 23 Maret 2013

iPhone 5S & iPad 5 Dirilis 29 Juni?

iPhone 5 (apple) Jakarta - Desas-desus mengenai iPhone 5S tampaknya kian kencang. Ya, Apple dikabarkan bakal meluncurkan smartphone tersebut pada 29 Juni mendatang, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-6 iPhone.

Electronista melansir kabar tersebut berdasarkan pihak yang diakuinya sebagai 'orang dalam' Apple dan pihak ketiga perusahaan tersebut.

Menurut sumber tersebut, Apple bakal menggelar acara yang bertitel 'Original Passion, New Ideas' yang digadang-gadang menjadi peluncuran iPhone 5S dan iPad 5. Keduanya merupakan produk pertama yang diproduksi Apple tanpa campur tangan dari mendiang Steve Jobs.

Selain meluncurkan produk teranyarnya, acara tersebut juga menjadi ajang merayakan kehadiran iPhone yang terbilang sukses dalam enam tahun terakhir, serta lahirnya iPad yang menjadi pendorong era 'post-PC' di tahun 2010.

Kehadiran iPhone 5S tentunya bakal menjadi pesaing terberat bagi Samsung Galaxy S4 yang baru saja diumumkan. Dan, pertarungan yang pernah ditorehkan Galaxy S III dan iPhone 5 sudah dipastikan akan terulang.

nokia's CEO throwns an iphone

Finlandia - CEO Nokia, Stephen Elop, tampak jelas tidak menyukai iPhone. Bahkan, dia pun tidak segan membanting smartphone kebanggaan Apple tersebut.

Kejadian tersebut berlangsung dalam sebuah acara televisi di Finlandia, negara asal Nokia. Awalnya, sang pewawancara terus bertanya pada Elop mengenai eksistensi smartphone Lumia 928, yang dirumorkan akan dirilis Nokia.

Namun Elop menyatakan tidak tahu menahu soal Lumia 928. Dia malah mengeluarkan Lumia 620, Windows Phone murah Nokia yang baru saja dipasarkan di Finlandia.

Sang pewawancara pun tampak kecewa dan tiba tiba mengeluarkan iPhone dari sakunya. Ia menyatakan tidak menginginkan iPhone tersebut sehingga Elop pun memintanya.

"Aku bisa menjaganya untukmu," kata Elop. Akan tetapi, ia tiba-tiba melempar iPhone tersebut. Terdengarlah suara ketika si iPhone 'malang' jatuh di lantai.

Anehnya, si reporter tidak tampak marah. Malah dia meminta ganti smartphone Nokia yang disanggupi Elop. Tidak diketahui apakah semua adegan tersebut spontan atau sudah dirancang sebelumnya. Berikut videonya:

Terus Menggugat Samsung, Apple Dikecam Bos Google

Eric Schmidt (Telegraph) New Delhi - Executive Chairman Google Eric Schmidt, dalam kunjungannya ke India, mengatakan sikap Apple yang terus menggunakan sengketa paten sebagai senjata untuk memblokir pasar Samsung, membuat akses konsumen membeli produk buatan perusahaan Korea Selatan itu terjegal.

Dikatakan Schmidt, akhir-akhir ini beberapa perusahaan telekomunikasi mulai memanfaatkan perkara paten untuk menghalau persaingan sehat. Menurutnya, kasus paten yang berlangsung di antara Apple dan Samsung tidak adil.

"Sejumlah perusahaan yang dipimpin oleh industri telekomunikasi menggunakan paten untuk menghentikan inovasi. Contoh yang paling mencolok adalah Apple menggugat Samsung di pengadilan berbagai negara, berupaya agar produk Samsung tidak masuk ke pasar," kata Schmidt.

"Kini saya mengerti, bahwa ada sengketa paten, membuat orang tak punya akses ke pilihan sebenarnya. Anda bahkan tidak bisa memilih produk kami dibandingkan yang lain. Bagi saya ini sangat tidak adil dan sama sekali tidak mencerminkan sistem paten sebenarnya," jelasnya.

Dilansir Times of India, Jumat (22/3/2013), Apple memenangkan USD 1,05 miliar dalam perkara paten melawan Samsung Agustus silam. Apple meminta pengadilan mengeluarkan perintah pemblokiran penjualan beberapa ponsel Samsung secara permanen, namun ditolak.

Apple lantas mengajukan banding atas penolakan ini, membuat tuding menuding dan saling menggugat di antara keduanya seakan tak ada habisnya. Apple juga memperkarakan Samsung dalam paten lain, yakni teknologi pencarian yang digunakan untuk fitur Siri. Kasus ini dijadwalkan sidang perdana pada Maret 2014.

Apa Jadinya Dunia Tanpa iPod?


Jakarta - Sekitar enam tahun sebelum iPhone diluncurkan dan meraih sukses besar, Apple membuat gebrakan dengan menghadirkan iPod.

Tepatnya tahun 2001, CEO Apple saat itu, Steve Jobs, memperkenalkan sebuah alat pemutar musik digital. Sejak kehadiran perdananya hingga saat ini, iPod menjadi trendsetter baru dalam mendengarkan musik.

Tak hanya itu, iPod mengubah paradigma baru dalam bisnis musik dan hubungannya dengan konsumen. Termasuk membuat beberapa pesaingnya memutar otak setelah produknya 'dibunuh pelan-pelan' oleh iPod.

Seperti kutip dari Bussines Insider, Jumat (22/3/2013), saking 'meledaknya' kesuksesan yang diraih iPod, bahkan sampai ada anekdot yang menyebutkan 'Apa Jadinya Dunia Tanpa iPod?'

1. Masih Menggunakan CD Walkman

Kembali ke tahun 2001, saat itu masih banyak konsumen yang menggunakan Sony Walkman. Sebuah alat pemutar musik berbasis CD.

Simpel saja, dengan kehadiran iPod pengguna tak perlu menenteng banyak album untuk mendengarkan musik.
Karena keterbatasan Walkman saat itu masih tergantung pada CD fisik yang biasanya memuat satu album musisi.

2. Menyimpan Ratusan Album

Pecinta musik tentu saja tidak ingin melewatkan album-album dari musisi favoritnya. Masalahnya adalah, tiap tahun mungkin sang penyanyi mengeluarkan album dan tidak satu musisi disukai oleh satu orang.

Sehingga, saat itu banyak dari orang yang menyimpan puluhan hingga ratusan kepingan CD di dalam rumahnya. Ini menarik bagi senang yang mengoleksi, tapi tentu saja membutuhkan ruangan lagi dan lagi.

iPod pertama kali datang dengan memori 5 GB dan 10 GB, sehingga pengguna bisa menyimpan musik hanya dalam satu kantong saja.

3. Popularitas iTunes

Selain device, iPod mengubah cara membeli dan menggunakan musik. Kehadiran iTunes saat itu menyimpan dua hal fungsi utama, manajemen dan toko musik sederhana.

Ya, selain untuk memindahkan musik ke iPod, dengan iTunes penguna bisa membeli musik hanya dengan satu klik. Ini bisa dibilang membantu arus utama seluruh gagasan membeli musik digital.

Berkembang dari waktu ke waktu akhirnya iTunes menawarkan aplikasi, film, dan acara televisi, iTunes Store telah terbukti menjadi generator pendapatan besar buat Apple.

4. Selamatkan Bisnis Musik dari Pembajakan

iPod memang bukan yang pertama menjadi alat pemutar musik digital. Sebelumnya pun ada alat pemutar musik MP3 player, salah satu di antaranya adalah Rio PMP300

Namun, sebelum datang iPod dan iTunes, banyak orang men-download musik ilegal dari situs berbagi file seperti Napster dan Kazaa. Nah, saat kedua produk ini hadir, serangan kombo menyelamatkan bisnis musik.

Maka saat itu, iPod generasi pertama mampu membuat situs seperti Napster dan Kazaa akhirnya tutup dengan sendirinya.

5. Transformasi untuk Apple

Apple mengalami pasang surut saat ditinggal Steve Jobs. Maka ketika sang maestro itu kembali, pasca Apple mengakuisisi NeXT, perubahan signifikan pun dilakukan.

iPod boleh dibilang menjadi suatu transformasi penting bagi Apple. Pasalnya, saat itu perusahaan berbasis di Cupertino tersebut lebih dikenal sebagai pembesut komputer seperti iMac.

Kehadiran iPod mengubah persepsi tersebut. Kini Apple tak lagi dikenal sebagai perusahaan komputer semata.

Jumat, 22 Maret 2013

20 Ribu Mahasiswa Rela Kredit Demi iPhone

Beijing - Lebih dari 20 ribu mahasiswa di China, tercatat mengambil pinjaman dengan bunga tinggi demi memiliki gadget keren. Sebagian besar, mereka rela melakukan ini demi gadget Apple seperti iPhone dan iPad.

Setidaknya demikian gambaran hasil survei yang dilakukan di kota Wuhan, China. Data yang terekam sejak Januari 2012 hingga Februari 2013 memperlihatkan, para mahasiswa ini mendaftar untuk pinjaman sebesar 160 juta yuan dari Home Credit China (HC China). Ini adalah perusahaan kredit anak usaha international investment business PPF Group.

"Kami kehilangan sekitar 100 orang dari mereka. Tak ada respons saat kami kontak baik melalui telepon maupun email," kata Liu Mingwei, Manager HC China wilayah Wuhan, dikutip dari ZDnet, Jumat (22/3/2013).

Berdasarkan data, ada 1 juta mahasiswa di Wuhan. Artinya, 1 dari 50 orang bergantung pada pinjaman dari HC China. Padahal, bunga yang dikenakan tidak sedikit, yakni 47,12% untuk pinjaman selama 12 bulan.

"Sekitar 90 persen kredit dimanfaatkan untuk membeli gadget Apple seperti iPhone dan iPad," kata Li.

HC China sendiri menyediakan kredit yang bisa diangsur dalam kurun waktu 9, 12 dan 15 bulan bagi pelajar dan mahasiswa. Untuk mendapatkan pinjaman, mereka harus menyertakan kartu mahasiswa atau pelajar dan akun bank. Adapun pinjaman yang diberikan berkisar antara 540 hingga 10 ribu yuan.

Berbeda dengan proses persetujuan pinjaman di bank, HC China meluluskan aplikasi pinjaman kredit dengan sangat mudah, hanya dalam hitungan menit. Para mahasiswa ini lantas dapat langsung mendapatkan gadget yang diinginkan setelah membayar down payment di toko yang bermitra dengan HC China.

Kamis, 21 Maret 2013

Departemen Pertahanan AS Pesan 600 Ribu iPhone & iPad

Washington - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) dilaporkan akan memesan perangkat buatan Apple secara besar-besaran. Dari iPad, iPad Mini, iPod Touch dan iPhone.

Sumber terpercaya media teknologi Electronista menyebutkan Pentagon memesan sekitar 600 ribu perangkat Apple yang memakai sistem operasi iOS. Rinciannya, 120 ribu iPad, 100 ribu iPad Mini, 200 ribu iPod Touch, dan 210 ribu iPhone.

Dilansir Cnet dan dikutip  Kamis (21/3/2013), pengumuman resminya dikabarkan tidak lama lagi. Sedangkan pihak Apple maupun Dephan AS belum bersedia mengkonfirmasi laporan ini.

Bula lalu, Dephan memang telah mengumumkan tidak lagi menjalin kontrak eksklusif dengan BlackBerry sebagai penyedia perangkat utama. Sehingga pemesanan ini mungkin sebagai tahap untuk memperbaharui perangkat.

Saat ini, pekerja Pentagon memakai sekitar 470 ribu BlackBerry. Hanya ada 41 ribu perangkat iOS buatan Apple dan dan 8.700 perangkat Android.

Rabu, 20 Maret 2013

jonathan ive

Jonathan Ive, Ksatria Inggris yang Membidani iPhone & iPad

Jakarta - Jonathan Ive adalah sosok sangat penting di raksasa teknologi, Apple. Dari tangan dinginnya, keluar desain memikat iPod, iPhone sampai iPad.

Saat ini, Ive menjabat sebagai Senior Vice President of Industrial Design di Apple. Boleh dibilang, dia adalah orang kedua paling penting di Apple setelah sang CEO Tim Cook.

Sosok Ive sangat disegani di Inggris sampai-sampai dia mendapatkan gelar Ksatria kerajaan. Seperti apa sih sosok seorang Ive dan sekelumit riwayat hidupnya? Simak berikut ini yang disarikan dari berbagai sumber. 

1. Terinspirasi dari Ayah

Jonathan Ive dilahirkan di Chingford, Essex, yang berlokasi di London, Inggris, pada 27 Februari 1967. Ayahnya seorang perajin handal sekaligus guru yang menjadi sosok inspirasinya.

"Ayahku adalah seorang perajin yang sangat bagus. Dia membuat perabotan, perak dan dia punya bakat luar biasa dalam hal membuat sesuatu sendiri," kata dia.

Dengan sendirinya, pengaruh sang ayah sangat besar dalam karir Ive sebagai seorang desainer. Dia sering belajar berdua bersama sang ayah.

"Kado Natalnya untukku adalah satu hari penuh di bengkel kerjanya, ketika tidak ada satupun orang yang berada di sana, membantuku untuk membuat apapun keinginanku," lanjut Ive mengenai sosok ayahnya.

Jonathan Ive kemudian masuk kuliah pada jurusan desain di Northumbria University di Newcastle. Di sinilah bakat desain Ive semakin terasah.

2. Gabung ke Apple Gara-gara Komputer Mac

Saat kuliah, untuk pertama kalinya Ive memakai komputer Apple Mac. Dia merasa senang menggunakan komputer tersebut yang menurutnya mudah digunakan.

Sejak perjumpaan dengan Mac itulah, Ive mulai tertarik kepada Apple dan sejarah perusahaan tersebut. Lulus kuliah, dia bekerja pada perusahaan desain Tangerine yang berbasis di London yang ikut didirikannya.

Dia mulai menjadi konsultan untuk Apple pada tahun 1992 dan akhirnya menjadi karyawan full time di sana. Dia mendesain generasi kedua komputer portabel Newton.

Pada tahun 1997 ketika mendiang Steve Jobs kembali memimpin Apple, Ive mendapat promosi jabatan. Dia diangkat sebagai Senior Vice President of Design.

Ive pun membawahi tim desain Apple dan mendesain beragam produk ikonik. Desain penuh pertamanya adalah iMac. Kemudian desain iPod lalu iPhone, adalah buah karyanya yang banyak dipuji.

3. Tangan Kanan Steve Jobs

Jonathan Ive adalah orang yang sangat dipercaya Steve Jobs. Di Apple, tidak ada yang bisa memerintah Ive selain Jobs sendiri.

Saat berbincang dengan penulis biografinya, Walter Isaacson, Jobs menganggap Ive adalah partner spiritualnya di Apple. Dia membebaskan Ive melakukan apa saja.

"Dia mengatakan pada Isaacson bahwa Ive punya kekuasaan lebih dibanding orang lain di Apple, di samping Jobs sendiri dan tidak ada satupun orang di perusahaan yang bisa memerintah Ive," sebut laporan di Associated Press.

Mereka berdua bekerja sama sangat erat mendesain produk kunci Apple yang biasanya simpel dan minimalis, namun indah. Berdua, mereka memegang lebih dari 200 paten terdaftar.

Namun Ive pernah menyatakan kekecewaanya pada Jobs yang kadang mengakui karya Ive sebagai karyanya sendiri. Kadang kelakuan Jobs ini membuat Ive sakit hati.

"Jobs kadang melihat ideku dan berkata aku suka yang itu. Kemudian aku duduk dan dia bicara ke audiens seperti itu adalah idenya. Aku sangat memperhatikan dari mana ideku dan aku punya catatan penuh dengan ide. Jadi menyakitkan saat dia mengambil kredit atas hasil desainku," kata Ive.

Namun Ive juga memuji Jobs setinggi langit dengan mengatakan hanya dia sosok terbaik dalam membuat sebuah ide menjadi sangat powerful. Ive pernah disebut-sebut sebagai kandidat kuat CEO Apple sesudah Jobs wafat, namun kemudian Tim Cook yang terpilih.

4. Laboratorium Desain Rahasia Apple

Ive bekerja di sebuah laboratorium desain yang sangat rahasia di markas besar Apple di Cupertino, California. Sangat sedikit orang yang diizinkan masuk ke sana.

Menurut wartawan Fortune, Adam Lashinsky, salah satu ruangan paling rahasia di Apple adalah tempat kerja Jonathan Ive. "Hanya sedikit orang yang diizinkan memasuki bunker desain Ive," tulis Lashinsky.

Di sinilah Ive mengerjakan desain produk produk baru Apple. Wajar jika kerahasiaan tempat kerjanya sangat terjaga.

Ive banyak meraih penghargaan di bidang desain. Dia juga banyak dinilai sebagai salah satu orang Inggris paling berpengaruh. Ia masuk salah satu orang Inggris paling hebat yang bekerja di luar negeri oleh media terkenal Inggris, Telegraph.

Pertengahan tahun 2012, dia menerima gelar ksatria Knight Commander, Order of the British Empire (KBE). Dia pun berhak memakai sebutan Sir di depan namanya.

"Satu-satunya yang kuinginkan memang adalah mendesain. Sangat bagus jika Anda bisa menemukan apa yang Anda cintai," kata dia.

5. Hidup Berlimpah Harta

Ive tinggal di California, Amerika Serikat, bersama istrinya Heather Pegg yang dinikahinya tahun 1987. Mereka mempunyai dua anak.

Sudah tentu ia kaya raya karena menjadi petinggi salah satu perusahaan terkaya di dunia. Belum lama ini, Ive membeli sebuah rumah seharga 10 juta poundsterling atau sekitar Rp 154 miliar.

Rumah tersebut berlokasi di Gold Coast, San Fransisco. Didesain oleh Willis Polk & Co, rumah tingkat nan klasik ini dibangun pada tahun 1927.

Rumah mewah tersebut memiliki ukuran 7.274 kaki dengan 6 kamar tidur dan 8 kamar mandi. Turut melengkapi rumah ini adalah perpustakaan dengan kayu ek dan 6 perapian.

Ive pernah dirumorkan akan segera kembali ke Tanah Airnya di Inggris. Namun pembelian rumah mewah ini sepertinya cukup untuk mematahkan spekulasi tersebut.

Apple Siapkan 'Fitur Pembunuh' untuk Serang Android

Jakarta - Android telah mencuri seluruh perhatian yang dimiliki oleh para penggila gadget di seluruh dunia. Sony, Samsung, dan HTC telah atau akan secara resmi memasarkan produk-produk terbarunya.

Sedangkan hingga saat ini, belum ada bukti konkret mengenai proyek kolaborasi Google dan Motorola. Artinya, kini adalah saat yang tepat bagi Apple untuk menggebrak dunia smartphone.

Menurut sebuah kabar yang dirilis Phone Arena (18/03/2013), seorang analis bernama Katy Huberty mengatakan bahwa saat ini Apple sedang mengembangkan sebuah 'fitur pembunuh' yang akan melengkapi peluncuran iPhone 5S terbaru. Prediksi Huberty semakin menguat, karena dirinya telah bertemu Peter Oppenheimer, Chief Financial Officer (CFO) Apple, belum lama ini.

"Apple akan tampil mengejutkan pada tahun ini, karena akan menyertakan sebuah killer feature yang akan membawa semua konsumen mengantre demi mendapatkan iPhone 5S," ucap Huberty seperti dikutip Jeruk Nipis dari Phone Arena. "Akan ada peningkatan kualitas dari sisi software yang pada akhirnya juga menaikkan nilai dari sebuah produk Apple," lanjutnya.

Bila kita menilik sejarah perjalanan produk-produk Apple, kita akan melihat bahwa Apple tidak melakukan perombakan besar-besaran di sisi desain bentuk keseluruhan saat merilis versi 'S'. Apple hanya akan meningkatkan kemampuan iPhone-nya hanya di bagian software.

Kabar soal rencana perilisan killer feature ini patut diantisipasi, karena Apple terlihat tengah menyusun strategi untuk menyerang balik Android, dan mengejar ketertinggalannya saat ini. 
 

iPad Mini 2 & iPad 5 Hadir Pertengahan 2013

iPad Mini (Ist) Washington - iPad mini generasi kedua diperkirakan akan dirilis pada paruh kedua 2013. Peluncuran ini kabarnya berbarengan dengan diperkenalkannya iPad 5.

Rumor ini merebak di China, bersumber dari salah satu pabrikan pemasok komponen untuk gadget Apple. Dilansir salah satu media setempat, Apple saat ini meminta para pemasok untuk 'ngebut' menyiapkan komponen iPad mini 2 dan iPad 5, untuk dirilis pada kuartal ketiga 2013.

Dengan demikian, seperti dilansir Macotakara, Selasa (19/3/2013), mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, bulan yang dipilih pada periode tersebut yakni antara Juli, Agustus dan September.

Sumber lain yang dilansir Cnet menyebutkan, iPad mini dengan Retina Display akan memiliki resolusi layar 2.048 x 1.536 pixel. Resolusi ini sama dengan iPad Retina Display ukuran 9,7 inch.

Jika Retina Display 9,7 inch menghasilkan kepadatan 264 ppi, dengan resolusi yang sama, iPad mini Retina ukuran 7,9 inch akan menghasilkan kepadatan pixel lebih tinggi yakni 324. Pada intinya, Apple sepertinya masih akan menjadikan keunggulan Retina Display sebagai salah satu jualan produknya.

Bos Teknologi Adobe Hijrah ke Apple

Cupertino - Setelah sempat memaki-maki Apple di era Steve Jobs, Kevin Lynch kini rela melepas jabatannya di Adobe sebagai Chief Technology Officer demi posisi jabatan yang levelnya sedikit lebih rendah di Apple.

"Kevin Lynch telah mengundurkan diri dari posisinya sebagai Executive Vice President, Chief Technology Officer, of Adobe System, efektif per tanggal 22 Maret," demikian pengumuman yang dirilis Adobe.

Nah, setelah meninggalkan Adobe dan bergabung dengan Apple, Lynch akan mengisi posisi yang cukup penting di perusahaan asal Cupertino tersebut, yakni Vice President Technologies. Namun levelnya jelas bukan CTO seperti di Adobe.

Nantinya, Lynch akan berada satu tim dengan Bob Mansfield yang masih memangku jabatan sebagai Head Technologies Group Apple. Sebuah struktur baru yang dibuat oleh Tim Cook setelah iOS Maps mendapatkan kritikan tajam.

"Kevin Lynch akan bergabung dengan Apple sebagai Vice President Technology, yang akan memberikan laporan ke Bob Mansfield," ungkap juru bicara Apple, Steve Downling, yang dikutip detikINET dari Forbes, Rabu (20/3/2013).

Lynch bergabung dengan Adobe sejak tahun 2005. Ia bergabung saat perusahaan itu mengakusisi Macromedia, tempatnya bekerja sebelumnya. Di Macromedia, Lynch adalah kunci perusahaan itu dilirik Adobe karena kesuksesannya mengembangkan software Dreamweaver, yang saat ini digunakan oleh Adobe.

Sekedar mengingatkan, Apple sejak tahun 2010 lalu sebenarnya sudah 'putus hubungan' dengan Adobe Flash untuk perangkat iOS. Karena Steve Jobs yang menolak keras kehadiran Flash di produknya.

Saat itu, Jobs mendeskripsikan Flash sebagai hal yang ketinggalan zaman, tidak dapat diandalkan, dan tidak layak untuk iPhone dan iPad. Jobs bahkan juga menyebutkan bahwa Flash hanya dirancang 'untuk PC yang menggunakan mouse, bukan untuk layar sentuh'.

Kejadian inilah yang membuat Lynch sempat memaki-maki Apple. Namun siapa sangka, yang tadinya seteru berat kini malah jadi satu tim. Mantan CTO Adobe ini telah siap melangkah untuk duduk bergabung di jajaran eksekutif Apple yang bermukim di Infinite Loop 1, markas Apple.

‘iPhone 5S’ Emas


Kilau ‘iPhone 5S’ Emas Mencuri Perhatian

imageJakarta - Sebuah foto yang dirilis oleh Ubergizmo sempat menarik perhatian para penggila produk Apple. Pasalnya, foto yang dirilis tersebut disebut-sebut sebagai iPhone 5S emas yang tengah dikerjakan Foxconn.

Hal menarik lainnya adalah gambar yang memperlihatkan sejumlah pekerja sedang merakit iPhone 5S dengan warna gold/emas. Warna emas tersebut hanya tampak menyelubungi bagian bazel pada iPhone tersebut.

Rumor yang santer terdengar, iPhone 5S akan dilengkapi teknologi NFC dan Fingerprint technology. Foxconn masih menjadi pilihan Apple sebagai partner untuk memproduksi iPhone dan gadget lainnya.

Mungkinkah iPhone 5S gold ini akan menjadi versi massal atau hanya versi edisi terbatas. Kita bisa mengetahuinya saat Apple meluncurkan ponsel pintar tersebut yang dirumorkan pada bulan Agustus tahun ini.

Kamis, 07 Maret 2013

How Apple's Losing Its Monopoly On Magic

 
On October 19, 2011, 14 days after the death of its celebrated founder Steve Jobs, Apple held a memorial service at its Cupertino campus. Posters bearing Jobs’ visage and his inspirational quotations appeared on the walls throughout the company’s headquarters.
“If you do something and it turns out pretty good, then you should go do something else wonderful, not dwell on it for too long,” declared one poster hung prominently in Apple’s Town Hall. “Just figure out what’s next.”
Nearly a year and a half later, Wall Street and the technology world seem increasingly convinced that Jobs’ company has failed to heed that advice, surrendering some of its aura as a supposedly limitless purveyor of brilliant new inventions along with billions in stock market value. In the Silicon Valley conversation, discussion of a reputedly invincible Apple has given way to questioning whether the company has lost its way while running out of fresh ideas.
On Wall Street, Apple has watched its stock price sink to its lowest level in more than a year, a dive that stands in contrast to its arch-rival Google, whose shares recently hit a new high. In the marketplace, Apple, in its present position, has devolved into a mere purveyor of consistently excellent products -- still an enormously lucrative perch, and yet a comedown for a company that only recently seemed to hold a monopoly on shiny new objects of consumer desire.
Apple did not respond to a request for comment.
In the three years since Apple released its last category-creating blockbuster, the iPad, investors are anxious for signs that the company has another breakthrough in its pipeline. Meanwhile, Apple’s competitors have successfully mimicked the company’s approach -- offering sleek gadgets and an ecosystem of content to go with them, paired with edgy marketing -- making Apple’s magic now seem almost mundane.
“Apple is going from a great company with unprecedented products to a good company with good performance,” said George Colony, chief executive of Forrester, a research and advisory firm. “The products are still very good, but not highly innovative. That’s different from a few years ago.”
No one is writing the company’s obituary. Despite the worried talk and some missteps, Apple sold 47 million iPhones over the last three months of 2012 alone. It remains the most valuable company on earth (or second-most valuable, depending on Exxon's stock performance on a given day). Over the course of last year, Apple's profits exceeded $41 billion, more than Microsoft, Facebook, Google and Amazon combined.
But by one key measure -- its price-to-earnings ratio, or the amount its stock is worth as a multiple of its profits -- Apple has clearly sunk in the estimation of investors. When stock markets have confidence that a company is on the verge of a growth spurt, they bid its stock price up, paying many times current earnings for its shares in the belief that those earnings are about to expand. Over the last two years, Apple has watched its stock value sink from a price-to-earnings ratio of 23 to about nine -- the same territory as companies viewed as mature and stable, such as electrical utilities.
Amazon, which actually lost money in 2012, boasts a P/E ratio of 150 times expected earnings. The value reflects that investors view the company’s future business ventures -- whether a phone, an HBO-like offering or a push to replace supermarkets -- as a source of explosive earnings growth. To a large extent, Apple's more modest P/E ratio reflects doubt that Apple can upend the Law of Large Numbers and keep pace with the incredible growth rate they've maintained thus far. Apple sold 80 percent more iPads in 2012 than in 2011. Can it sell 80 percent more -- or 105 million iPads -- in 2013? And again in 2014?
Even Apple co-founder Steve Wozniak worries that Apple may be surrendering its touch.

“We used to have these ads, I’m a Mac and I’m a PC, and the Mac was always the cool guy,” Wozniak told Bloomberg. “And ouch, it’s painful, because we kind of are losing that.”

Apple shares precious little about its current and future state of affairs, but the outside world senses trouble -- a sense amplified by turnover at the top. Scott Forstall, the company’s head of iOS software, was fired in November. John Browett, who replaced Ron Johnson as senior vice president of retail operations, lasted just seven months at Apple. Three months after his Browett's exit, his direct report, Apple’s vice president of retail, resigned.

The company’s uncanny grasp of consumer taste has lately seemed on the wane. In the past, Apple’s ads have become cultural phenomena of their own -- and yet Apple’s latest round of commercials were noteworthy only inasmuch as they proved entirely unremarkable (the notable exception: a series of “cringeworthy,” “hated” ads for the Apple Genius Bar).
Apple’s major product releases, such as the iPhone 5, new iPad and iPad Mini, offered only incremental improvements over their predecessors, or, in the case of Apple Maps, a product that fell short of expectations (though even with these "incremental improvements," Apple sold 1.7 million iPads and 3.7 million iPhones per week in the final three months of 2012). The company that prides itself on making the world’s best, most beautiful products has recently watched its mapping, mail and browser apps for the iPhone upstaged by Google’s own, in the estimation of some users.
“The Apple user is an adrenaline junky,” noted Howard Anderson, a lecturer at the MIT Sloan School of Management. “He wants the latest and greatest, revolutionary not evolutionary.”
Apple’s business model, which relies on producing top-tier gadgets that retail for top-tier prices, appears weaker than it has in years, given changing conditions within Apple and in the market at large.
Though analysts note that Apple’s existing lineup of devices still bears Jobs’ fingerprints, the chief executive’s obsessive focus on product details can’t easily be matched. Despite Apple’s impressive sales under Cook's watch, Wall Street still seems to be wondering whether the company can maintain its momentum without its visionary founder.
Apple, for its part, has changed its product review process: Where designs for new features or products used to go through Jobs for his sign-off, they’re now evaluated by members of Apple's executive team, with a different mix of people assigned to different projects, a former Apple employee told HuffPost. The person noted that this procedure has been in place since Jobs’ health worsened.

And even as Apple has been adjusting to an innovation cycle that doesn’t include its founder’s input, its rivals are demonstrating that they are both able innovators and keen imitators of the Apple formula.
Competitors like Google, Samsung, Amazon and HTC are closing the gap between Apple’s offerings and their own, with high-quality handsets they sell for less than Cupertino’s, and a growing ecosystem of apps and entertainment to go with then. Analysts warn this trend may erode Apple’s profit margins, which in turn may erode confidence in the company’s future earnings.

“The market as a whole has changed. The Samsungs and others can now almost read the mind of Apple, more than they could have ten years ago,” said Peter Fader, a professor of marketing at the University of Pennsylvania’s Wharton School. “It’s not clear to me that Apple can continue to have the same success with this innovation, product-driven strategy, as I think others will catch up. Customers are getting smart, and they can’t have the virtual monopoly they’ve enjoyed.”
Apple's allure has stemmed in large part from the sense that its devices are "gateway gadgets" to more spending: when people buy an iDevice, they are supposed to be making just the first of many purchases from the company, and will eventually fork over their credit cards to buy books, apps, music and other gadgets that all sync seamlessly within Apple's universe. People with MacBooks are enticed to buy iPhones with the pitch that they will be able to use the new device to play the iTunes music that they already own. This dynamic is supposed to be self-perpetuating, making people accustomed to shopping at iTunes -- and especially as the iPad beckons as a screen for video -- or to purchase an iPad so they can sync apps already on their iPhone.
Now, other companies have developed their own media and app libraries, which also act as portals to a range of content. And standalone services, such as Pandora, Spotify, Netflix and Amazon's Kindle ebook library, let people easily transfer their entertainment from one company's platform to another's, providing an alternative around Apple's iTunes.
In the longer-term, analysts like Colony warn that the exploding popularity of Google’s Android operating system, which powers phones and tablets from Samsung and HTC, among others, could lure developers away from the Apple system, which may soon be in an undesirable position familiar to BlackBerry and Microsoft: Apple could find itself playing catch-up with its app offerings.
Forrester estimates that by the end of this year, Android smartphones will outnumber iPhones by nearly five to one, with 894 million Android phones and 247 million iPhones worldwide.
Apple has previously brushed off questions about its share of the smartphone market, while citing data showing that even as Android commands a greater number of users, Apple users more frequently employ their devices to shop online, browse the web and download apps.

Analysts said they expect Apple’s future strategy to look a great deal like its past approach: grow revenues by launching products in new categories, and then push those devices into new markets. In short, adapt to swiftly changing consumer demands.
In the 2007 fiscal year, desktop computers comprised some 17 percent of Apple’s net sales, while iPhones made up only one percent. Five years later, the iPhone accounted for more than half of net sales, while desktop computers had shrunk to just 4 percent. In those past five years, Apple has also conquered new territory, with China now Apple’s second-largest market.
It is worth bearing in mind that Apple’s success has stemmed from entering areas pioneered by others, yet far from tamed, to enable mass enjoyment of consumer products. Apple did not invent the MP3 player; it merely built the most popular version of all time. The iPad came a decade after Microsoft’s efforts at launching a tablet, but Apple’s was the first to find a mass market. The iPhone was far from the first smartphone, trailing entrants from Microsoft, Nokia and BlackBerry, but its public embrace made apps and the mobile Web part of everyday life.
Apple’s future success now seems likely to hinge on its ability to pull off that trick once again, finding another lucrative area to transform -- perhaps television, wearable technology, or even the car. Some speculate that its next major play will be for the home, with devices like an Apple TV to put iTunes, Siri, the App Store and other Apple offerings on more screens and provide more opportunities to pay for Apple content.
The living room and the wrist seem to be among Apple’s primary targets, as rumors abound of possibilities like an Apple TV -- a full television, as opposed to the streaming video box the company sells now -- or an iWatch.